kegiatan tulis mushaf BERSAMA PIMPINAN DAN PENGASUH PONDOK PESANTREN MIFTAHUSSAADAH DI AULA

Edisi hari ini…

all its oke
hari ini
SAMSUNG CSC

pembelajaran menulis al- qur‘an secara benar.

 

 

PENULISAN AL-QURAN AL-KARĪM

Seluruh Al-Quran ditulis di hadapan Nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Hanya saja, masih tercerai berai di tulang, batu putih tipis, papan, kertas dan sebagainya. Ketika wahyu turun, nabi memanggil sebagian penulis wahyu. Kemudian, beliau memerintahkan mereka untuk menulisnya dan menunjukkan suratnya dan cara penulisannya. Sebelum Nabi meninggal, semua Al-Quran sudah ditulis.

Kemudian, pada masa Abu Bakar al-Ṣiddīq raḍiya Allah ‘anhu, Al-Quran ditulis dalam beberapa lembaran yang disatukan. Penulisannya bersumber dari tulisan yang ditulis di hadapan Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Selanjutnya, pada masa Usman raḍiya Allah ‘anhu berdasarkan kondisi yang terjadi ditulis di beberapa mushaf. Penulisannya merujuk pada tulisan masa Abu Bakar raḍiya Allah ‘anhu. Hanya saja, ia meringkas tulisannya yang sesuai bahasa Quraish. Kami telah menjelaskan sebelumnya dalam bahasan penghimpunan Al-Quran, perkembangan penulisan Al-Quran dan pembukuannya. Barang kali kalian masih mengingatnya.

Penulisan Al-Quran di hadapan nabi memiliki para sekertaris dari kalangan sahabat yang terkenal dengan kesempurnaan agama, kelebihan amanah, keunggulan akal dan  keteguhan yang sangat, sebagaimana mereka dikenal akan kecakapan huruf hijaiyah dan tulisannya. Di antara yang terkenal dengan tulisannya adalah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarḥ yaitu, penulis wahyu pertama di Mekah, Zubayr bin Awwām, Mu’āwiyah, Khalid dan `Abān kedua putra Said bin al-‘Āṣ bin Umayyah, Ubay bin Ka’b yaitu penulis wahyu pertama di Madinah, Zaid bin Thābit, yaitu orang yang banyak tulisannya di Madinah, Shuraḥbīl bin Ḥasanah, Abdullah bin Rawāḥah, ‘Amr bin al-‘Āṣ, Khalid bin al-Walīd, al-`Arqam bin Abu al-`Arqam al-Makhzūmy, Thābit bin Qays, Abdullah bin al-`Arqam al-Zuhry, Ḥanẓalah bin al-Rabī’ al-Āsady dan Mu’ayqīb bin Abu Fāṭimah pada masa-masa akhir.[1][5] Mereka menulis apa yang didiktekan dan ditunjukkan oleh Rasulullah cara penulisannya tanpa menambahi dan mengurangi satu huruf pun. Imam Ahmad dan tiga pemilik karya al-Sunan meriwayatkan sebuah hadis Abdullah bin Abbas dari Usman yang disahihkan oleh Ibnu Ḥibbān dan al-Ḥākim. Usman mengatakan, “Pada suatu saat, Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam mendapatkan surat yang berbilang. Ketika Al-Quran diturunkan, beliau memanggil sebagian penulis. Kemudian mengatakan, “Taruhlah ayat ini di surat yang disebutkan demikian.” Riwayat tersebut menunjukkan penulisan Al-Quran pada masa nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Selain itu, masih ada banyak dalil-dalil yang lain. Diantaranya

  1. Riwayat Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya dari Abu Said al-Khudry yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian menulis dariku selain Al-Quran. Barang siapa yang menulis selain Al-Quran maka hapuslah.”
  2. Riwayat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhāry mengenai perkataan Abu Bakar al-Ṣiddīq kepad Zayd bin Thābit, “Engkau merupakan seorang laki-laki muda berakal. Kami tidak meragukanmu bahwa engkau menulis wahyu untuk Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam.
  3. Riwayat al-Tirmidhiy, ketika firman Allah Ta’ālā lā yastawī al-qā’idūna min al-mu`minīna ghayru `ulī al-ḍarari wa al-mujāidūna fī sabīlillahi, al-`āyah turun, Abdullah bin Ummi Maktūm dan Abdullah ibnu Jaḥsh[2][6] bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kami adalah orang buta. Adakah keringanan untuk kami?” Kemudian turun ayat ghayru `ulī al-ḍarari. Rasulullah berkata, “Bawakanlah aku batu putih tipis dan tempat tinta dan beliau menyuruh Zayd untuk menulisnya. Kemudian Zayd menulisnya. Zayd mengatakan, “Seolah-olah aku melihat tempat ayat tersebut ketika nabi menjelaskannya di batu putih tipis situ.”

Apakah Nabi Bisa Membaca dan Menulis?

 

Seluruh ulama sepakat bahwa Nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam, ketika diutus kepada seluruh manusia tidak bisa membaca dan menulis. Hal itu untuk hujjah bagi manusia dan hilangnya kesamaran akan ketetapan mukjizatnya yang agung, Al-Quran. Karena, seandainya Nabi dapat membaca dan menulis, maka kejanggalan mereka beredar dan kebimbangan mereka menjadi kuat bahwa apa yang dibawa adalah kesimpulan dari bacaan, penelaahan dan melihat buku-buku terdahulu. Allah tabāraka wa ta’ālā memberi isyarat akan hal ini dengan firmannya,

 

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ, بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ[20]

 

Setelah hujjah Al-Quran sudah tegak, kalimatnya unggul dan Arab tidak bisa membuat surat terpendek dan tidak kembali pada keraguan dan prasangka, maka kajian dan yang mendapatkan perhatian adalah sebagian ulama mengatakan, Nabi belajar baca-tulis. Sebagian lagi menolaknya. Mereka mengatakan, beliau tetap dalam keummiannya. Pendapat ini dipaparkan oleh imam al-`Alūsy. Dalam kelanjutan penafsiran ayat di atas ia menyampaikan ketetapannya,

 

Ada perbedaan mengenai Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam setelah kenabian, apakah bisa memabaca dan menulis atau tidak? Sebagian mengatakan, beliau ‘alayhi al-ṣalātu wa al-salām tidak bisa menulis. Pendapat ini dipilih oleh al-Baghawy dalam al-Tahdhīb. Ia mengatakan, pendapat itu adalah pendapat yang paling sahih. Sebagian lainnya mengklaim bahwa nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam mempelajari tulisan setelah tidak mengetahuinya. Ketidaktahunya disebabkan mukjizat akan tanda ini. Ketika Al-Quran diturunkan, Islam sudah terkenal dan keraguan[21] telah menjadi jelas, penulisan ini dikenal pada saat itu. Ibnu Abu Shaybah dan lainnya meriwayatkan, Nabi wafat, ketika sudah bisa menulis dan membaca. Ini juga dinukil al-Sha’by dan dibenarkannya. Ia juga mengomentari, “Saya mendengarkan beberapa kaum yang mengatakannya. Mengenai tanda ini, tidak ada yang meniadakannya.[22] Ibnu Mājah meriwayatkan dari Anas, Nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam mengatakan, “Pada malam ketika saya diisrā`kan, saya melihat tulisan di pintu surga “Sedekah dibalas dengan sepuluh semisalnya dan pinjaman itu dibalas dengan delapan belas kali. Kemudian Ibnu Mājah mengatakan, ada beberapa hadis  dalam Ṣaḥīḥ al Bukhāry dan lainnya yang membuktikan penulisan nabi. Sebagaimana yang dikemukakan di perjanjian Hudaybiyah. Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam megambil kitab. Beliau tidak baik dalam tulisan. Kemudian menulis, ini adalah keputusan Muhammad bin Abdullah, hadis[23]. Di antara yang berpendapat seperti itu lagi adalah Abu Dharr Abdullah ibnu Ahmad al-Harawiy,[24] Abu al-Fatḥ al-Naysābury[25] dan Abu al-Walīd al-Bājy[26] dari al-Maghāribah (). Ia meriwayatkannya dari al-Simnāny.[27] Ia mengarang sebuah kitab mengenainya yang sudah didahului oleh Ibnu Maniyyah. Ketika Abu al-Walīd mengutarakan pendapatnya itu, ia dicela, dituduh dengan Zindiq dan dicela di beberapa podium. Kemudian majlisnya dibekukan. Kemudian ia menunjukkan hujjah klaimnya dan menyurati beberapa ulama mulia. Mereka menjawab dengan pendapat yang sesuai dengannya. Pengetahuan akan tulisan setelah keummian nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam tidak meniadakan mukjizat. Bahkan, itu merupakan mukjizat lain, karena mukizat tersebut ada tanpa pembelajaran. Sebagian `ajillah menolak kitab al-Bājy, karena ada hadis sahih, innā `ummatun ummiyatun lā naktubu wa lā naḥsabu. Ia menjawab, “Setiap kata kataba yang terdapat dalam hadis maknanya adalah perintah untuk menulis sebagaimana dikataan, kataba al-sulṭān bi kadhā li fulān (Sultan memberi perintah kepada fulan untuk menulis demikian). pendahuluan firman Allah, min qablihi  daripada, wa lā takhuṭṭuhu, secara jelas menunjukkan bahwa nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam tidak bisa menulis, sama sekali. rata-rata batasannya itu kembali ke kondisi setelahnya itu tidak berlaku. Sebagian ajillah menyangka, kembalinya nabi ke kondisi sebelumnya dan sesudahnya. Mereka menajawab, dari penjelasan itu, dapat dipahami bahwa nabi ‘Alayhi al-Ṣalātu wa al-Salām bisa membaca dan menulis setelah turunnya Al-Quran. Seandainya tidak ada ibarat ini, tentu perkataan tersebut tidak ada faidahnya, anda sendiri tahu, seandainya pengembalian tidak menyempurnakan faidah diterima kecuali jika disampaikan dengan hujjah yang dapat dipahami dan dugaan dari seseorang yang tidak mengatakan disertai hujjahnya. Kemudian, al-`Alūsy dalam menyalahkan penolakan ini, mengatakan, “Jelas, sabda nabi ‘Alayhi al-Ṣalātu wa al-Salām, kita adalah umat umi, yang tidak bisa menulis dan berhitung, bukan merupakan ketetapan keberlanjutan peniadaan penulisan pada Nabi ‘Alayhi al-Ṣalātu wa al-Salām. Barangkali, ungkapan itu menggunakan pertimbangan beliau diutus, Nabi, dan kebanyakan masyarakatnya. Beliau di antara Arab dan ummi, tidak bisa menulis dan berhitung. Maka tidak mengapa ketiadaan kelanggengan sifat ummi pada mayoritas masyarakat setelahnya. Adapun takwil kataba dengan perintah tulisan adalah berbeda dengan makna ekplisitnya. Dalam Sharḥ Ṣaḥīḥ Musliim karya al-Nawāwy ‘alayhi al-rahmah menyebutkan riwayat dari Qadi ‘Iyāḍ, perkataan Nabi dalam riwayat yang telah kita sebutkan, wa lā yuḥsinu yaktubu fa kataba, seperti pernyataan bahwa Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam menulis sendiri kemudian meninggalkannya untuk hal lainnya adalah majaz, tidak memberi akibat buruk. Kemudian ia mengatakan, “Bahasan setiap kelompok tentang masalah ini cukup panjang. Setiap kelompok memandang buruk kelompok yang lainnya dalam masalah ini. Fa Allah Ta’ālā `a’lam.[28]

abah yai

Menurut saya pendapat yang unggul adalah nabi Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam belajar menulis setelah nabi belum pernah mempelajarinya. Sebagai buktinya, sukup dengan hadis al-Bukhāry. teramat jauh sekali seseorang seperti Rasulullah –kecerdikannya, kepintarannya dan kecerdasannya- tidak belajar menulis setelah sekian lama mendikte Al-Quran kepada para juru tulis dan melihat mereka saat mereka menulis. Berdasarkan itu, sangat mungkin, Allah subḥānahu wa Ta’ālā mengajari bacaan dan tulisan nabi-Nya, sebagaimana Dia mengajari yang lainnya. Sesuatu yang tidak ada dengan jalan pemberian tanpa keharusan beajar dan usaha. Jika itu ada, maka tidak meniadakan antara nabi diutus dalam kondisi ummi dan tulisan Al-Quran adalah tawqīfy. Karena apabila beliau belajar tulisan, maka masalah ini menjadi jelas. Jika beliau tidak mempelajarinya, berarti pendiktean dan petunjuknya kepada para penulis mengenai cara penulisannya merupakan pendiktean Jibril dan wahyu darinya.

Penggaraf:

penanam cinta al-qur’an sejak dini

MBS

Terkait More from author

Komentar

email anda tidak akan dipublikasikan.