Sejarah

Miftahus Sa’adah Boarding School Grobogan berdiri dan berkembang atas perintah tuan guru besar Al – Arifbilah Al – Habib Ahmad bin Hasan fad’aq (Pendiri dan Pengasuh Pondok Al-Khoirot – Bekasi). Beliau termasuk keturunan Rosullulloh dari saidina Husain.

Miftahus Sa’adah Boarding School Grobogan berkembang mulai dari  2 keponakan yai yang meminta dibimbing pembelajaran qiroati setelah beberapa minggu kemudian ada beberapa temanya ikut belajar sampai kurang lebih jumlahnya mencapai 100 anak. sehingga pembelajaran berkembang menjadi TPQ dengan ditambah beberapa kitab salaf seperti safinah, jurumiyah, amsilah sorfiyah, akhlaqul libanain dan metode pembelajaan amsilati.waktu itu abahyai baru memulai awal rumah tangga dan masih satu rumah bersama mertuanya, sehingga dari bertambahnya anak dengan jumlah yang banyak abahyai merasa sunkan dengan mertua karena keramaian yang disebabkan pembelajaran anak yang mana pada waktu itu pembelajaran dijadikan 2 kelas kelas awal dilaksanakan  setelah maghrib sampai isak kelas kedua dilaksanakan setelah isak sampai dengan jam 9 malam,

Sehingga abahyai memutuskan untuk memindah pembelajaran dirumah kosong (tidak dihuni) yang belum rapi milik Bapak Ahmad Fathoni yang masih bekerja di Korea, sehingga para santri sebelum pembelajaran bersama -sama berbahu-membau untuk merapikan rumah tersebut yang mana pada saat itu rumah masih tanah liat dan becek (ngrember:jawa). supaya pembelajaran sedikit lebih nyaman diberilah terpal (layar:bahasa jawa) dengan cara bersama – sama santri menggabung layar dengan cara di  jahit (didondomi nganggo tangan:bahasa jawa), dengan semangat para santri tempat tidak dijadikan kendala untuk belajar, sehingga setiap minggu bertambahlah jumlah santri yang ikut belajar. 

Beberapa tahun kemudian muncul kekhasudan dari beberapa orang yang ditokohkan sehingga ada tuduhan-tuduhan bahwa pembelajaran yang diajarkan abahyai adalah sesat, ada juga beberapa santri ketika berangkat belajar di hasud dengan di panggil dengan ejekan supaya para santri minder, sampai-sampai abahyai di panggil di rumah tokoh supaya pembelajaran diberhentikan. namun karena abahyai berpegang teguh amanah dari beliau al ‘arifbillah habib Ahmad bin Hasan Vad’aq pembelajaran tetap dilaksanakan bersama santri, namun supaya tidak timbul fitnah yang lebih besar,bersama keluarga yai dan santri, abahyai memutuskan pindah tempat yang jaraknya kurang lebih 1Km dari tempat awal, kebetulan ada rumah kayu yang tidak dihuni milik saudara mertua. lalu bersama santri merapikan rumah tersebut karena rumah masih tanah liat dan becek lalu para santri merapikan tempat untuk dibuat tidur di rumah tersebut. namun beberapa minggu kemudian famili abahyai  berdatangan sambil menangis karena dianggap dunug:bahasa jawa ( menempati rumah orang lain padahal masih mempunyai orangtua) karena diadad jawa dunung itu hina sekali. namun dengan keteguhan dan tekad abahyai dalam mengemban amanah beliau Habib Ahmad bin Hasan Vad’aq bersama santri tetap bersemangat dalam belajar.

Setelah beberapa tahun kemudian abahyai bergerak dalam hatinya untuk punya tempat sendiri, setelah baca wadhifah (kebiasaan membaca yasin,waqiah, tabaroq , an nab’ dan wirdul latif) aba yai keluar untuk menanyakan tanah yang akan dijual lalu ketemu sama ibu yang sepuh yang bernama mbah sud menunjukan tanah yang akan di jual yang mana tanah tersebut tidak laku dijual karena menurut warga sekitar tanah tersebut banyak penghuninya(makhluk ghaib) dan tanah itu di tawarkan kepada masyarakat hanya Rp. 8.000.000 namun masyarakat tidak ada yang menawar sama sekali karena masih mempercayai mitos bahwa tanah tersebut tidak  bisa ditempati. 

berawal dari tujuh anak dari dusun jatitengah desa Tambakselo, setelah bertambahnya santri dari luar desa  tambakselo dan beberapa santri dari luar kabupaten grobogan meliputi kabupaten pati dan Blora untuk menambah kenyamanan santri yang belajar dari luar kabupaten maka dikembangkan menjadi Pondok Pesantren Miftahu Sa’adah.

Awal majelis Ta’lim Dalwa Al-Khoirot menjadi pondok pesantren Miftahus Sa’adah awal tahun 2003 – 2004. Nama Miftahus Sa’adah pemberian dari guru besar Al- Habib Chamid Magib bin Syeh Abu Bakar Bekasi (Pengasuh Pondok Al-Khoirot – Bekasi. Beliau juga keturunan cucu Rosullullah SAW) setelah beliau melakukan isticharoh selama tiga hari. lalu mendapat nama ‘MIFTAHUS SA’ADAH’.

Awal Majelis Ta’lim berdiri diasuh Oleh KH. Moch Nur Cholis M., BSA., S.Pd.I yang kala itu beliau baru nikah dengan Ibu Nyai Siti Mukhoyyaroh. Setelah kelahiran anak pertama yang bernama Abdul Hamid Karna majlis yang digunakan rumah mertua dengan alasan tidak tertampungnya santri yang ikut mengaji maka diputuskan untuk pindah menempati rumah kosong milik H. Ma’ruf Kaswadi (menempati rumah orang lain dalam bahasa jawa namanya Dunung) yang diperuntuk anaknya Fatoni. Setelah Setahun lebih lalu pindah kerumah kosong (Dunung lagi) milik Saudah Putra dari H. Ma’ruf Kaswadi.

Setelah Setahun lebih Alhamdullilah atas Fadlol yang maha pengasih dan pemurah dapat membeli tanah seharga Rp. 14 Juta dengan Luas tanah 480 m2 Awal pembelian dengan dana Rp. 200.000.- dan diansur selama 3 tahun baru lunas. Setelah terbeli, awal pembangunan yaitu masjid Miftahuis Sa’adah Pemberian dari Habib Ahmad bin Hasan Fad’aq Pengasuh ponpes Al-Khoirot bekasi beliau adalah orang tua angkat abah KH. Moch Nur Cholis M., BSA., S.Pd.I. Setelah berkembang pesat kedatangan santri dari luar kabupaten dan dari sekitar kabupaten grobogan atas usulan sesepuh maka didirikan SMP Miftahus Sa’adah Berbasis Pondok Pesantren pada awal tahun 2006. Awal tahun 2008 dikembangkan SMA Miftahus Sa’adah Berbasis Pondok Pesantren dan awal tahun 2010 dikembangkan SMK Miftahus Sa’adah Berbasis Pondok Pesantren.

Dan alhamdulilah apa yang menjadi cita-cita, angan – angan, maksud, tujuan,harapan Yayasan Miftahus Sa’adah Grobogan hampir mendekati kenyataan dengan terbelinya tanah Seluas 2 Ha di Jalan Raya Diponegoro Km 4 Tambakselo – Wirosari Kab.Grobogan dan terbangunnya 24 gedung (RKB), 2 gedung Lab Komputer, 2 gedung Lab
IPA, beberapa Gedung Pesantren. Lapangan olah raga, Mobil antar jemput dll.